Selasa, 17 April 2012

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Berbicara masalah filsafat saat ini, berarti berbicara tentang segudang permasalahan yang tak kunjung usai. Problem filsafat yang masih hangat diperbincangkan hingga kini adalah problem tentang di manakah sebenarnya pemikiran ideal yang ada pada filsafat, apakah sebagai subyek ataukah obyek. Kalau kita berpijak pada kaum positivisme, maka pemikiran atau pemahaman segala yang tampak seperti apa adanya sebatas pengalaman-pengalaman. Jadi, setelah fakta tersebut kita atur dapat memberikan semacam asumsi proyeksi ke masa depan, yang kalau diterjemah kepada yang lebih aktual yaitu dari filsuf ke pengikutnya. Akan tetapi  para pemikir  harus dipandang sebagai subyek yang bebas.
Sekarang terdapat dua aliran pemikiran filsafat yang pengaruh yang besar, tetapi aliran-aliran ini belum dapat dikatakan aliran yang membuat sejarah. Hal ini terjadi ini masih dianggap baru, kedua aliran tersebut adalah analitis dan struktualis.
Zaman sekarang merupakan zamannya berfikir praktis-realitik, sehingga belajar filsafat telah sampai pada pradigma baru. Belajar filsafat tidak hanya menghafal pemikiran-pemikiran para tokoh filsafat/ filsuf, akan tetapi belajar filsafat dimaksudkan untuk membangun kesadaran, semangat, dan keperdulian agar kita lebih bermakna.Yang penting belajar filsafat dan aktualisasinya.
kegunaan dunia filsafat, antara lain menambah wawasan keilmuan, menggugah kesadaran, keperdulian, dan strategi menghadapi tantangan zaman mendatang.  
Kegunaan diatas memperlihatkan hal-hal yang sifatnya teoretik, artinya kegunaan filsafat belum dapat di mamfaatkan dan dirasakan secara langsung. ibarat seseorang yang membuat sayur lodeh kebutuhan santannya harus menanam pohon kelapa dahulu dan berbuahnya menunggu lima tahunan.
Demikian juga, agar para mahasiswa dapat memamfaatkan sekaligus merasakan kekuasaan filsafat, maka harus menunggu beberapa tahun bahkan belasan tahun. Karena terkadang pemamfaatan filsafat ini kadang masih terkait dengan kematangan berfikir, kematangan usia, dan pengalaman akademiknya.  
 Tujuan studi filsafat adalah mengantarkan dunia filsafat, sehingga minimal filsafat, maksud dan tujuan. Tujuan umumnya adalah menjadikan manusia yang susila. Pengertian susila di sini terdapat dalam ruang lingkup tertentu sesuai dengan tempat dan aturan tertentu. Sedangkan tujuan khususnya adalah menjadikan manusia yang berilmu.
Tidak dapat di pungkiri, zaman filsafat modern telah modern. Secara historis, zaman modern dimulai sejak adanya krisis zaman pertengahan selama dua abad yakni abad ke-14 dan ke-15, yang di tandai dengan munculnya gerakan Renaissance. Renanssance berarti kelahiran kembali, yang mengacu kepada keagamaan dan kemasyarakatan yang bermula di itali pada pertengahan abad ke-14. Tujuan utamanya adalah merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup kristiani menakaitkan filsafat yunani dengan ajaran agama kristen. Selain itu dimaksudkan mempersatukan kembali yang terpecah-pecah.
Disamping itu, para humanis bermaksud menigkatkan suatu perkembangkan yang dari keahlian dan sifat-sifat alamiah manusia dengan mengupayakan kepustakaan yang baik dan mengikuti kultur klasik.
Renainssance akan banyak memberikan segala aspek realitas. Perhatian sungguh-sungguh atas segala yang konkret dalam lingkup alam semesta, manusia, dan sejarah. Pada masa itu pula terdapat upaya  itu pula terdapat upaya manusia untuk memberi tempat terhadap kepada akal yang mandiri. Akal di kepercayaan yang lebih besar karena adanya suatu keyakinan bahwa akal pasti dapat menerangkan segala macam persoalan yang diperlukan untuk pemecahannya. Hal ini dibuktikan adanya perang terhadap kepercayaan yang dogmatis dan terhadap orang dan terhadap orang-orang yang enggan menggunakan akalnya.
Asumsi yang digunakan, semakin besar kekuasaan akal akan dapat di harapkan lahir dunia baru yang penghuninya dapat merasa puas atas dasar kepmimpinan akal yang sehat.
Aliran yang menjadi pendahuluan ajaran filsafat modern didasarkan pada suatu kesadaran tas yang individual yang konkret.
Bermula dari William Ockhan mengetenagakan Via Moderna/ jalan modern dan Via Antiqua/ jalan kuno. Akibatnya manusia di dewa-dewakan, manusia tidak memuaskan memusatkan pikirannya kepada tuhan dan surga. Akibatnya, terjadi perkembangan ilmu pengetahuan secara pesat dan membuahkan yang sesuatui yang menggumkan. Di sisi lain, nilai filsafat merosot akibat ketinggalan zama.
Dalam era filsafat abad ke-20, muncullah berbagai aliran pemikiran. Rasionalisme, Emperisme, Kritisisme dan lain-lain. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas secara rinci terkait dengan penyusunan kitab-kitab hadis beserta penysunannya , semua hal tersebut akan dikemukakan pada bab berikutnya.















A.   Rumusan Masalah 
1.    Apa pengertian Renaissance ?
2.    Bagaimana tahapan-tahapan  sejarah filsafat abad modern ?
3.    Apa saja Aliran-aliran sejarah filsafat pada abad modern ?
4.    Siapa saja tokoh-tokoh filsafat  pada abad modern ?
B.  Tujuan Penulisan Makalah
1.    Agar mahasiswa memahami pengertian renaissance
2.    Agar mahasiswa memahami tahapan-tahapan sejarah filsafat abad modern
3.    Agar mahasiswa memahami aliran-aliran filsafat pada abad modern
4.    Agar mahasiswa memahami tokoh-tokoh filsafat pada abad modern
    












BAB II
PEMBAHASAN

A.  Renaissance
     Ini istilah bahasa prancis. Dalam bahasa latin, re + nasci berarti  lahir kembali. Istilah ini biasanya digunakan sejarahwan untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi eropa, dan lebih khusus lagi di italia, sepanjang abad ke-15 dan ke-16. Istilah ini mula-mula di gunakan oleh sejarahwan terkenal, michelet, dan dikembangkan oleh J. burckhardt untik konsep sejarah yang menunjuk kepada periode yang bersifat yang bersifat individualisme, kebangkitan kebudayaan antik, penemuan dunia dan manusia, sebagai periode yang dilawankan dengan periode abad pertengahan. Karya filsafat pada abad ini sering disebut filsafat renaisance.
Renaisance yang berarti lahir kembali bertujuan merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup kristiani dengan mengaitkan filsafat yunani.dengan ajaran agama kristen. Selain itu, juga dimaksudkan untuk mempersatukan kembali gereja yang terpecah-pecah.
Disamping itu, para humanis meningkatkan suatu perkembangan yang harmonis dari keahlian-keahlian dan sifat-sifat alamiah dengan mengupayakan kepustaan yang baik dan mengikuti kultur klasik.
Renaissance akan banyak memberikan segala aspek realitas. Perhatian yang sungguh-sungguh atas segala yang konkret dalam lingkup alam semesta. Pada masa itu itu pula terdapat upaya manusia memberi tempat kepada akal yag mandiri. Yang yang diberikan kepercayaan yang lebih besar karna adanya sesuatu keyakinan bahwa akal pasti dapat menerangkan segala macam persoalan yang di perlukan juga pemecahannya. Hal ini dapat dibuktikan adanya perang terbuka atas kepercayaan yang dogmatis dan terdapat orang-orang yang menggunakan akalnya. [1]   
B.  Tahapan-tahapan  sejarah filsafat abad modern
Ketika itu di dunia bara telah  biasa membagi tahapan-tahapan  sejarah pemikiran menjadi tiga periode, yaitu :
Pertama: Ancient atau zaman kuno, menurut mereka zaman ini terdapat kamajuan manusia.
Kedua: Medieval atau pertengahan, yakni zaman di mana alam pikiran dikukung atau di dominasi oleh gereja.selain itu kebebasan pemikiran  sangat terbatas, perkembangan sains amat sulit dan perkrmbangan filsafat tersendat- sendat .
Ketiga: zaman modern yakni zaman sesudah abad pertengahan berakhir hingga sekarang.
Namun batas yang jelas tentang tentang kapan abad pertengahan berakhir sulit ditentukan. Zaman modern sangat dinanti–nantikan oleh banyak pemikir manakala mereka mengingat zaman kuno etika peradaban begitu bebas, pemikiran tidak dikekang oleh tekenan-tekanan diluar dirinya. Kondisi semacan ini hendak dihidupkan lagi pada zaman modern. [2]
Ciri–ciri pemikiran filsafat modern antara lain ingin menghidupkan kembali Rasionalisme keilmuan subyektivisme, Humanisme dan lepas dari pengaruh gereja.
C.   Aliran-aliran filsafat pada abad modern
              Filsafat modern  mempunyai tiga pokonya aliran yang akan di uraikan sebagai berikut :
1.    Rasionalisme
Descartes di samping sebagai tokoh rasionalisme juga dianggap sebagai bapak filsafat modern, selain itu descartes juga mengemukakan metode baru yaitu metode keragu-raguan. Jika saya meragukan segala sesuatu, tetap  tidak ada sesuatu yang mungkin di ragukan yaitu saya sedang meragukan segala sesuatu. Jadi bahwa saya sedang berfikir. Dan kalau pasti bahwa saya berfikir, maka ada lagi pasti dan tidak dapat di ragukan, yaitu bahwa saya sendiri ada: cogito ergo sum ! saya berfikir, maka aku ada.[3]   
Adapum sumber kebenarannya ialah rasio. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Karena saja yang di anggap sebagai sumber kebenaran, maka aliran ini di sebut rasionalisme. Adapun pengetahuan indera sering menyesatkan. Jadi, paham rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal adalah alat terpenting yang memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.[4]
Ciri pertama rasionalisme adalah kepercayaan pada kegiatan akal budi manusia. Segala apa dapat dan harus dimengerrti secara rasional. (b) penolakan terhadap tradisi, dogma dan otoritas mempunyai dampak pada segala bidang pengetahuan, dan kemudian juga pada kehidupan masyarakat. (c) rasionalisme mengembangkan metode baru bagi ilmu pengetahuan yang jelas menunjukkan ciri-kemodernan. (d) unsur terakhir dalam rasionalisme yang mau saya sebutkan sekuralisme. Sekulismu adalah sesutu pandanngan dasar dan sikap hidup yang dengan tajam membedakan antara tuhan dan dunia dan menganggap dunia sebagai duniawi saja. [5]
Rasinonalisme sebagai  pengetahuan deduktif. Secara demikian  akal budi di pahamkan sebagai.(1) sejenis perantara khusus yang dengan perantara tersebut dikenal dengan kebenaran, dan sebagai.(2). Suatu teknik deduksi ini yang memakai teknik tersebut dapat ditemukan kebenaran- kebenaran; artinya, dengan melakukan penalaran.[6]
 Pengalaman merupakan pelengkap bagi akal. Seorang penganut rasionalisme tidaklah memandang pengalaman sebagai hal yang tidak mengandung nilai. Bahkan sebaliknya ia mungkin mencari pengalaman- pengalaman selanjutnya sebagai bahan pembantu atau sebagai pendorong dalam penyelidikannya untuk memperoleh penyelidikannya untuk memperoleh kebenaran. Dan mungkin mengadakan perbedaan antara pengetahuan dengan pendapat. Pengetahuan merupakan hasil kegiatan akal yang mengolah hasil tanggapan yang tidak jelas yang timbul dari indra, ingatan atau angan-angan kita. [7]  
Penganut aliran rasionalisme yang lain diantaranya yang terutama adalah Blaise Pascal (1623- 1662 M), Nikole Malehrance (1678-1718 M ), spinoza (1632-1677 M), leibniz (1647-1716).[8]
2.    Empiris
Emipiris bertentangan dengan rasionalisme yang berpendirian bahwa sumber pengenalan adalah rasio, sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang kabur saja, aliran empirisme berpendapat bahwa pengetahuan bersumber dari pengalaman. Sehingga pengenalan indrawi merupakan pengenalan yang paling jelas dam sempurna.
Pengetahuan diperoleh dengan perantara indera kata seorang penganut empirisme john locke bapak empirisme britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan, akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong, dan di buku catatan itulah dicatat pengalaman- pelangalaman. Inderawi . menurut john locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta membanding- bandingkan ide-ide yang diperoleh dari pengindraan dan refleksi yang pertama-tama dan sederhana tersebut. [9]  
Francus bacon ( 1210-1292 M) berpendapat: pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan inderawi dengan dunia fakta. Pengalaman  merupakan sunber pengetahuan yang sejati. Penngetahuan haruslah dicapai dengan induksi. kata bacon selanjutnya: kita sudah terlalu lama di pengaruhi oleh pengaruh metode deduktif. dari dogma- dogma di ambil kesimpulan, itu tidak benar.
Thomas hobbes (1588-1292 M) berpendapat pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengenalan. Hanya sesuatu dapat disentuh dengan inderalah yang merupakan kebenaran. Pengetahuan intelektual tidak lain hanyalah merupakan penggabungan data-data inderawi mereka.
Pengikut aliran empirisme yang diantaranya : john locke(1632-1704 M), David hume (1711-1776 M), Gerge berkeley (1665-1753 M).[10]
3.    Kritisisme
Pendirian rasionalisme dan empirisme sangat bertolak belakang. Rasionaliosme berpendirian bahwa rasiolah sumber dari pengenalan atau pengetahuan, sedangkan empirisme sebaliknya berpendirian bahwa pengalamanlah yang menjadi sumber tersebut.
aliran kritisisme filsafat modern ini berperan  memjembatani antara rasionalisme dengan emperisme, sedangkan validitasnya ialah  hukum kausalitas dan urutan peristiwa.
Immanuel kant (1724-1804 M) berusaha mengadakan penyesaikan atas pertokaian itu dengan filsafatnya yang di namakan kritisisme (aliran yang kritis) untuk itulah ia menulis bukunya yang berjudul: kritik der Reynen Vernunft (kritik atas rasio murni), kritik der Urteilskraft (kritik atas daya pertimbangan).
Menurut kant, dalam pengenalan inderawi selalu ada dua bentuk apriori, yaitu ruang dan waktu. Memang ada suatu realitas (das ding an sich = benda dalam dirinya ) tidak pernah dikenalinya. Kita hanya mengenal gejala- gejala yang merupakan sintesa antara hal-hal yang datang dari luar (aposterori ) dengan bentuk ruang dan waktu.
Selainnya tiga aliran pokok yanh telah diuraikan diatas, dalam era modern, yang kemudian dilanjutkan dengan filsafat era ke-20, terdapat berbagai pimikiran lagi, yang akan diuraikan sebagai berikut:
a      Idealisme
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata idea yaitu suatu yang hadir dalam jiwa. Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri. Oleh karna itu, tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi tergantung pada spirit tidak disebut idealis karna mereka tidak menggukan argumen epistemologi yang digunakan idelisme.
Setelah kant mengetengahkan tentang  kemampuan manusia, maka para murid kant tidak puas, alasannya karna akal murni  akan dapat mengenal hal yang berada dalam pengalaman. Untuk itu, dicarinya suatu dasar, yaitu sistem metafika yang ditemukan lewat dasar tindakan.
Pelopor idelisme: J. G. fichte (1762-1814 M ), F.W.J. Scheling (1775-1854 M), G.W.F. Hegel (1770-1814 M), Schopenhauer (1788-1860 M).
Dokrin idealisme memiliki akar yang mendalam dalam sejarah pemikiran manusia, dan bentuknya bermacam-macam. Kata idealisme adalah salah satu kata yang cara penting sepanjang sejarah filsafat. Kata itu mengubah sejumlah paham filsafatyang di dalamnya ia mengkristal, (arti kata Idelisme) menjadi tidak jelas.
Beberapa penulis buku-buku filsafat malah meganggap sebagai sesuatu gambaran setiap filsafat yang bertopang pada skeptisisme, yang mengandung usaha menjauhkan sisi objektif sesuatu dari kerangka pengetahuan manusia, atau mennegaskan adanya metafisis bagi alam. Spiritualisme, argotisisme, empirisisme, rasionalime, kritisisme, fenomenalisme eksisitensial, menurut mereka, adalah filsafat-filsafat idealistik,  Oleh karena itu, agar peranan idealisme dalam teori pengetahuan itu menjadi jelas, kami akan membahas beberapa tendensi penting dalam idealisme modern, yaitu tendensi filosofis, tendensi fisikal, dan tendensi fisiologik, yang akan di uraikan sebagai berikut:
§  Idealisme Filosofis
Pendiri Idelisme filosofis adalah George Berkeley dianggap sebagai Bapak Idealisme Modern. Filsafatnya di anggap sebagai titik tolak bagi idealistik atau tendensi konseptual pada abad-abad terakhir filsafat. Inti Idealisme adalah dokkrin brekeley dapat di padatkan dalam ucapannya yang sangat terkenal: “ Esse Est Percipi “ artinya untuk ada, berarti mengatahui atau diketahui. Dengan kata lain, suatu  yang mungkin dinyatakan ada selama sesuatu itu tidak  mengetahui atau tidak diketahui.                                   
Konsep idealisme brekeley mengandung kekaburan yang memungkinkan diberi penafsiran, yang berbeda-beda dalam tingkat idealismenya dan kedalaman konseptualnya. Kita mengambil arti yang paling idealitik, yaitu arti yang benar-benar idealitik yang tidak mengakui apapun selain eksitensi jiwa. Arti idealisme murni inilah yang terkenal sekali dalam pertanyaan filosofisnya dan juga sesuai dengan dalil-dalil itu ia berusaha menegaskan konsep idealismenya. Dalil-dalil atas konsep ini dapat di rangkum sebagai berikut: Dalil yang pertama, bahwa semua pengetahuan manusia berasal dan berdasarkan pada manusia. Dalil kedua adalah mempercayai adanya sesuatu diluar jiwa dan konsepsi kita bertumpu kepada fakta bahwa kita melihat dan merabanya yaini kita adnya sesuatu itu karena ia memberikan kepada kita persepsi inderawi tertentu.
§  Idelisme fisis
Sebelum abad terakhir, fisika menafsirkan alam secara Realistik dan Materialistik sebagai dikuasai oleh hukum Mekanik Umum.
§  Idelisme fisiologis
Ini adalah jenis lain dari Idelisme sementara ahli Fisiologi. Ia berdasarkan, menurut klaim-klaim mereka atas realitas-realitas dari sesuatu titik tolak yang di perdebatkan. Yaitu bahwa kepastian itu bentuk subjektif persepsi inderawi manusia itu tergantung pada susunan indera kita dan sistem organik secara umum.

Tendensi Idealisme Fisiologis adalah termasuk komplikasi tan terhindarkan dari konsep materialisme tentang pengetahuan yang kita tolak mentah-mentah. [11]
b     Positivisme 
Positivisme lahir pada abad ke-19. Titik tolak pemikirannya, apa yang diketahui adalah apa yang faktual dan yang positif, sehingga metafisika ditolaknya. Maksud positif adalah segala gejala dan segala yang tampak seperti apa adanya sebatas pengalaman-pengalaman objektif. Jadi, setelah fakta diperolehnya, fakta-fakta tersebut kita atur dapat memberikan semacam asumsi kemasa depan.
Beberapa tokohnaya adanya August Conte(1798-1857 M), John S. Mill (1806-1973 M), Herbert Spencer (1820-1903 M)
c      Evolusionisme
Aliran ini dipolopori oleh seorang Zoologi yang pengaruh saat ini yaitu, Charles Robert Darwin. Ia mendominasi pemikiran filsafat abad ke-19. Pada tahun 1838 membaca bukunya Malthus An Essay on the Principle of Popullation. Buku tersebut memberiksn inspirasi kepada darwin untuk membentuk kerangka berpikir dari teorinya. Dalam pemikirannya, ia mengajukan konsepnya tentang perkembangan segala sesuatu termasuk manusia yang diatur oleh hukum mekanik, yaitu Survival of The Fittest dan Struggle For Life.
Pada hakikatnya antara binatang dan manusia dan benda apa pun tidak ada bedanya. Dimungkinkan terdapat perkembangan manusia pada masa yang akan sempurna lebih sempurna. Dalam pemikiranya, darwin tidak melahirkan sistem filsafat, tetapi pada ahli fikir berikutnya Herbert Spencer berfilsafat berdasarkan pada Evolusionisme.
d     Materialisme
Seorang tokoh Julien De Lamettrie mengemukakan pemikirannya bahwa binatang dan manusia tidak ada bedanya, karena semuanya dianggap sebagai mesin. Buktinya, bahan tampa jiwa hidup, sedangkan jiwa tampa bahan tidak mungkin ada.
Seorang tokoh lagi adalah Ludwig feueurbach sebagai pengikut Hegel, mengemukakan pendapatnya, bahwa baik pengetahuan maupun tindakan berlaku adagium, artinya terimalah dunia yang ada, bila menolak agama/metafisika.
e      Neo-Kantianisme
Setelah Materialisme merajarela, para murid kant mengadakan gerakan lagi. Banyak filosof Jerman yang tidak puas terhadap Materialisme, positivisme, idealisme. Mereka ingin kembali ke filsafat kritis yang bebas spekulasi idealisme dan bebas dari dogmatis positivisme dan materialisme. Gerakan ini disebut Neo-Kantianisme. Tokohnya Wilhelm Windelband (1848-1915 M), Herman Cohen(1842-1918 M), Paul Natrop (1854-1924 M), Heinrickh Reickhart  (1863-1939 M ).

f       Pragmatisme
Pramatisme berasal dari kata pragma yang artinnya guna. Pragma dari kata yunani. Kata pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan akibat-akibat yang bermanfaat secara pragtis.
Tokohnya William James (1842-1910 M) lahir di New York,  ia ahli dalam bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi, dan filsafat.
g      Fenomenologi
Fenomenologi berasal dari kata fenomen yang artinya gejala, yaitu suatu hal yang tidak nyata dan semua. Tokohnya Edmund Husserl (1839-1939 M), dan pengikutnya Max Scheler (1874-1928 M).
h     Eksistensisme
Kata Eksistenisme berasal dari kata Eks artinya keluar, dan Sistensi atau Sisto yang artinya berdiri, menempatkan. Pelopornya adalah Soren Kierkegaard (1813-1855 M), Martin Headegger, J.P Sartre, Karl Jaspers, Gabriel Marcel.
Aliran ini merupakan aliran filsafat yang memandang berbagai gejala dengan berdasar eksistensinya. Artinya, bagaikan  manusia berada bereksistensi dalam dunia.[12]
i        Anti Theisme atau Atheisme
Anti theisme atau atheisme aliran filsafat yang ingin mewujudkan sejarah manusia tampa tuhan. Tokoh filsafat ini adalah Friedrich Nietzche (1844-1890 M), tuhan dan agama menurutnya dipandang sebagai formula jahat yang diterapkan dalam setiap fitnah melawan manusia di dunia.
Pokok-pokok filsafatnya diantara mengenai kehendak manusia, manusia sempurna, dan kritikan terhadap agama (kristen).[13]
Di negara indonesia, istilah atheisme di kenal dengan istilah neo Komunisme/marxisme-leninisme, tindakan keji mereka dan kejam masih melekat dalam benak benak bangsa indonesia. Baik penghianatannya dalam mediun affair tahun 1948 maupun tragedi berdarah oleh Gerakan 30 Sebtember tanggal 1 Oktober 1965. Kedua peristiwa itu telah menelan korban dari kalangan pejabat pemerintah, para jenderal bersenjata, tokoh-tokoh masyarakat maupun pemuka agama. Dan PKI itu dibubarkan dan dilarangnya faham komunisme/marxisme-leninisme melalui ketetapan MPRS No. XXV/1966. [14]   
Kesadaran manusia secara umum sebenarnya luar biasa konservatif, dan selalu tertinggal dari perkembangan masyarakat, teknologi dan kekuatan produktif.[15] Itu mereka Di biarkan tak di beri ruang gerak untuk bergerak dan di karenakan orang kumunis sangat kejam.  




D.  Tokoh-Tokoh Filsafat pada Abad Modern
dalam era filsafat modern terdapat berbagai tokoh pimikiran, yang akan diuraikan sebagai berikut:
1.    Rene Descartes
Rene Descartes dilahirkan pada tanggal 31 Maret 1596 disebuah kota kecil la Haye, sekitar tiga puluh mil dari Tours. Tempat ini berganti nama menjadi Descartes, dan hingga saat ini rumah yang menjadi tempat kelahirannya masih bisa disaksikan, begitu dengan gereja yang menjadi Descartes dibabtis, yakni gereja St. Georges yang di bangun pada abad kedua belas.[16]
  Descartes adalah nama tenar dalam sejarah filsafat. Ketenarannya juga menyebabkan pula menyebabnya pertanyaannya: Cogito Ergo Sum bergema luas.” Aku berfikir, jadi aku ada” merupakan pembuktian eksistensi manusia sebagai kesadaran. Ini tentu penting bagi mereka yang memerlukan pembuktian.
Seandainya pembuktian ini tidak dianggap penting, tetap saja kehadiran descartes mengejutkan, karena dianggap membunyikan lonceng awalnya filsafat modern. Modern berarti baru, meninggalkan yang lama. Dan descartes menghapus gagasan-gagasan yang dianggap tidak meyakinkan.
Meyakinkan orang dapat dilakukan dengan berbagai cara: menteror atau menyuap, tetapi pencerahan di eropa meyakinkan langsung langsung dilakukan dengan nalar, yaitu lewat penaran yang jelas dan cermat. Sementara itu, penalaran yang cermat dapat diikuti melalui pembuktian matematika. Ternyata penalaran itu tidak hanya di terapkan pada filsafat, tetapi juga pada ilmu-ilmu yang lainya ditulis olehnya karya berjudul makalah tentag dunia (Traite Du Monde). 
Empat tahun kemudian ia menerbitkan risalah tentang metode yang dianngap aman sebagai pengantar untuk ketiga eseinya dioptrioque, meteores, dan geometri (bagian dari Traite Du Monde). Mengkaji dan menjabarkan metode lebih aman karna lebih abtrak, sedangkan contohnya yang dipakai olehnya tetap menyerempet bahaya. Memang pokok bahasanya tetap dunia, tuhan dan jiwa, tetapi dengan menyangsikan pengetahuan terdahulu, jadi, tentu harus dituliskan dengan rendah hati. Demikian Risalah tentang Metode. Buku terdiri dari enam bagian, bagian pertama dapat ditemukan berbagai pembahasaan tentang ilmu-ilmu pengetahuan, bagian kedua, kaidah-kaidah pokok tentang metode yang sedang diteliti pengarang, bagian ketiga, beberapa kaidah moral yang didasarkan pada metode tersebut, bagian keempat, penalaran- penalaran yang membuktikan keberadanan tuhan dan jiwa munusia yang merupakan dasar metafisikanya, bagian kelima, urutan masalah-masalah fisika yang telah ditelitinya, terutama dalam pergeraka jantung dan masalah yang lain dalam ilmu kedokteran dan bgian terakhir, hal-hal yang menurut pendapatnya prasarat untuk maju untuk maju lebih maju dalam penelitian alam , dan alasan-alasan yang mendorong dan menulisnya.[17]
Descartes menemukan dalam ilmu pasti ialah sistem koordinat yang terdari dua garis lurus x dan y. dalam bidang datar garis x letaknya horizontal dan Axis atau sumbu x sedangkan letaknya tegas x lurus pada sumbu x. karena dua garis yang berpotongan tegak lurus maka sistem koordinat itu dinamakan orthogtonal, coordinate sistem. Kedudukan titik dalam bidanh tersebut di proyeksikan dengan garis lurus pada sumbu x dan  y. Dengan demikian, kedudukan tiap titik potong kedua sumbu-sumbu tadi. Pentingnya sistem yang ditemukan descartes in terletak pada hubungan yang diciptakan antara ilmu ukur bidang datar dalam al-jabar tiap titik dapat dinyatakan dengan koordinat x: dan y: panjang garis dapat dinyatakan serupa dengan hukum pythagoras mengenai hypothenusa. Penemuan Descartes ini dinamakan Analytik.[18]
2.    Immanuel Kant
Immanuel kant  lahir pada tahun 22 April 1724 di Konigsberg, Prussia Timur. Kelurganga termasuk kaun Pities, sebuah sekte protestan seperti sekte Quarter dan Metodis awal. Orientasi etis pietisme yang sangat kental dan tiadanya pengenalan pada dogma teologis menjadi sebuah ciri khas kant dan faktor determinan dalam filsafatnya. Setelah menyesaikan kuliah di Universitas Konigsberg dan menjadi tutor di beberapa keluarga keluarga aristrokat, kant menyesaikan almamaternya itu. Dia menjadi selama lima belas tahun, mengajar dan menulis tentang metafisika, logika, etika, dan sains-sains alam.dalam sains, dia memberikan kontribusi yang signifikan tetapi pada masa itu tidak banyak diketahui, khususnya dalam fisika, astronomi, geologi, dan mateorologi. Pada tahun 1770, dia diangkat sebagai guru besar logika dan metafisika di konigsberg, dan pada tahun 1781dia menerbitkan karya terpentinya, Cristiqua of Pure Reason. Karya ini membuka studi dan masalah-masalah baru pada zaman ketika kebanyakan orang bersiap-siap untuk pensiun. Namun, bagi kant masa dua puluh tahun itu merupakan masa kerja keras tak kenal lelah beserta prestasi tak tertandingi.
Prestasinya yang lain dicatat adalah karya-karya terpentinnya diantaranaya: Idea for Universal History (1784), Mataphysics of Ethics (1797) Cristiqua of Judgment (1790) Edsi Kedua Cristiqua of Pure Reason (1787).
Kepribadian Kant, atau setidaknya karikatur tentangnya cukup terkenal. Kebanyakan orang yang tidak mengenal Kant tahu bahwa orang-orang di konigsberg melihatnya berjalan-jalan setaiap sore pada jam sama. Konon kehidupankan kant sangat teratur seoerti terturnya kata kerja beraturan. Namun seorang penulis jerman, johan gottfried herder. Memberikan gambaran kepribadian kant yang lebih mendekati kebenaran, tidak suka menonjolkan keilmuan[19]
.
3.     Friedrich Nietzsche
Bersama Nietzsche, filsafat kembali sangat berbahaya, kali  ini dengan sesuatu yang berbeda. Dalam  abad-abad sebelumnya, filsafat hanya berbahaya bagi para filosuf. Di tangan Nietzsche, filsafat berbaya bagi semua orang. Pada akhirnya, Nietzsche sendiri menjadi gila. Kegilaan begitu jelas terlihat dalam tulisan-tulisannya terakhir. Namun gagasannya yang berbahaya telah mulai jauh sebelum ia menjadi gila. Dan hal ini ada hubungan dengan kegilaan klinis yang di laminya. Tulisan-tulisan memberikan bertanda adanya kegilaan kolektif yang  meluas dan mengerikan di Eropa pada paruh pertama abad kedua puluh. Kegialaan tampaknya bangkit kembali saat ini disana.
Sulit sekali memberi label lagi gagasan-gagasan filosofis Nietzsche yang begitu luas ini. Entah ketika berbicara tentang manusia super/superman, kehidupan abadi, tentang satu-satunya tujuan peradapan yakni untuk menghasilkan manusia-manusia hebat seperti Goethe, napoleon, dan dirinya sendiri. Digunakannya Will To Power kehendak untuk berkuasa oleh Nietzsche oleh penjelasan universal adalah sebuah penyerhanaan, kalau bukannya tak bermakna sama sekali bahkan Monisme Freud pun terasa lebih menggigit, dan konsep schopenhauer yang kurang spesifik pun lebih meyakinkan.[20]     














                                   





BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
 zaman filsafat modern telah mulai secara historis, zaman modern dimulai sejak krisis pada zaman abad pertengahan dua abad (abad ke-14 dan ke-15) yang ditandai dengan muncuknya gerakan Renaissance. Renainansance berarti kelahiran kembali. Dan sepanjang abad ke-15 dan ke-16. Istilah ini mula-mula di gunakan oleh sejarahwan terkenal, Michelet dan dikembangkan oleh J. Burckhardt untuk konsep sejarah yang menunjuk kepada periode yang bersifat yang bersifat individualisme, kebangkitan kebudayaan antik, penemuan dunia dan manusia, sebagai periode yang dilawankan dengan periode abad pertengahan. Karya filsafat pada abad ini sering disebut filsafat renaisance.  Tujuan utamanya adalah merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup kristiani dengan mengaitkan filsafat yunani dengan ajaran kristen. Selain dimaksudkan untk mempersatukan kembali gereja yang terpecah-pecah.
Dan Ketika itu di dunia barat  telah  biasa membagi tahapan-tahapan sejarah pemikiran menjadi tiga periode, yaitu, zaman ancient atu zaman kuno, medieval atau pertengahan, dan zaman modern yakni zaman sesudah abad pertengahan berakhir hingga sekarang. 
Dalam filsafat abad modern terdapat aliran pokok, yaitu aliran rasinalisme rasionalisme yang berpendirian bahwa sumber pengenalan adalah rasio, sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang kabur saja, empirisme yang berpendapat bahwa pengetahuan bersumber dari pengalaman  dan kritisisme aliran kritisisme filsafat modern ini berperan  memjembatani antara rasionalisme dengan emperisme, sedangkan validitasnya ialah  hukum kausalitas dan urutan peristiwa. Selain tiga aliran ini ada benerapa aliran lagi seperti Idealisme, Posivisme, Evolusionisme, Materialisme, Neo-Kantianisme, Pramatisme, Fenomenologi, Eksistensialisme.
Dan juga terdapat tokoh yang berperan pada zaman filsafat modern. Yaitu, Rene Decartes, Immanuel Kant, Friedrich Nietzche, john locke, David Hume,  Francus Bacon, Augus Comte, dan lain-lain.
  














RIBA

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar belakang
         Istilah dan persepsi mengenai riba begitu hidupnya di dunia Islam. Oleh karenanya, terkesan seolah-olah doktrin riba adalah khas Islam. Orang sering lupa bahwa hukum larangan riba, sebagaimana dikatakan oleh seorang Muslim Amerika, Cyril Glasse, dalam buku ensiklopedinya, tidak diberlakukan di negeri Islam modern manapun. Sementara itu, kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa di dunia Kristenpun, selama satu milenium, riba adalab barang terlarang dalam pandangan theolog, cendekiawan maupun menurut undang-undang yang ada.
          Di sisi lain, kita dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa praktek riba yang merambah ke berbagai negara ini sulit diberantas, sehingga berbagai penguasa terpaksa dilakukan pengaturan dan pembatasan terhadap bisnis pembungaan uang. Perdebatan panjang di kalangan ahli fikih tentang riba belum menemukan titik temu. Sebab mereka masing-masing memiliki alasan yang kuat. Akhirnya timbul berbagai pendapat yang bermacam-macam tentang bunga dan riba.
            Riba bukan cuma persoalan masyarakat Islam, tapi berbagai kalangan di luar Islam pun memandang serius persoalan riba. Kajian terhadap masalah riba dapat dirunut mundur hingga lebih dari 2.000 tahun silam. Masalah riba telah menjadi bahasan kalangan Yahudi, Yunani, demikian juga Romawi. Kalangan Kristen dari masa ke masa juga mempunyai pandangan tersendiri mengenai riba.
            Dalam Islam, memungut riba atau mendapatkan keuntungan berupa riba pinjaman adalah haram. Ini dipertegas dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 275 : ...padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.... Pandangan ini juga yang mendorong maraknya perbankan syariah dimana konsep keuntungan bagi penabung didapat dari sistem bagi hasil bukan dengan bunga seperti pada bank konvensional, karena menurut sebagian pendapat (termasuk Majelis Ulama Indonesia), bunga bank termasuk ke dalam riba. bagaimana suatu akad itu dapat dikatakan riba? hal yang mencolok dapat diketahui bahwa bunga bank itu termasuk riba adalah ditetapkannya akad di awal. jadi ketika kita sudah menabung dengan tingkat suku bunga tertentu, maka kita akan mengetahui hasilnya dengan pasti. berbeda dengan prinsip bagi hasil yang hanya memberikan nisbah bagi hasil bagi deposannya. dampaknya akan sangat panjang pada transaksi selanjutnya. yaitu bila akad ditetapkan di awal/persentase yang didapatkan penabung sudah diketahui, maka yang menjadi sasaran untuk menutupi jumlah bunga tersebut adalah para pengusaha yang meminjam modal dan apapun yang terjadi, kerugian pasti akan ditanggung oleh peminjam. berbeda dengan bagi hasil yang hanya memberikan nisbah tertentu pada deposannya. maka yang di bagi adalah keuntungan dari yang didapat kemudian dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati oleh kedua belah pihak. contoh nisbahnya adalah 60%:40%, maka bagian deposan 60% dari total keuntungan yang didapat oleh pihak bank.
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan atas latar belakang yang terkemuka, maka dapat disusun beberapa rumusan masalah, antara lain sebagai berikut:
1.         Apa pengertian riba ?
2.         Bagaimana Pengertian Secara Ijmal Qs. Al-Baqarah: 275-279.?
3.         Bagaimana Penafsiran kata-kata sulit pada Qs. Al-Baqarah: 275-279.?
4.         Bagaimana Tafsir surat Al-baqarah: 275-279 dan Al-Imran: 130. ?
C.  Tujuan Penulisan Makalah
  1. Ingin memahami tentang pengertian riba
  2. Ingin memahami Pengertian Secara Ijmal Qs. Al-Baqarah: 275-279.
  3. Ingin  memahami Penafsiran kata-kata sulit pada Qs. Al-Baqarah: 275-279
  4. Ingin memahami Tafsir surat Al-baqarah: 275-279 dan Al-Imran: 130.










BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Riba
Ada beberapa pengertian riba menurut ulama’ fiqih, yaitu
1)   Menurut Madzhab Maliki
Riba ialah setiap nama yang diberikan bagi setiap jual beli yang diharamkan.
2)   Menurut Madzhab Hanafi
penjelasan tidak menyeluruh hanya pembahas jual beli. Riba adalah jual beli yang ada tambahan (barang sejenis) contohnya, 2 kilogram gamdum ditukar dengan 2,5 kilogram gandum.
3)   Menurut Madzhab Hanafi
penjelasan dengan Madzhab ini terlalu berbelit-belit, didalam membahas tentang Riba fadhl dan Riba Nasi’ah. transaksi terhadap  suatu benda dengan yang khusus yang memilki kesamaan menurut syara’ saat transaksi atau disertai pengakhiran dua objek transaksi atau salah satu diantaranya. 
4)   Menurut Madzhab Hambali
Penjelasan dari Madzhab sudah mencakup semua akan tetapi dibatasi. Riba adalah ketidaksamaan pada sesuatu atau dengan cara mengakhirkan sesuatu yang tertentu pada sesuatu.
Dari penjelasan dari madzhab-madzhab di atas dapat disimpulkan definisi yang mencakup semuanya, yaitu “ tambahan atas modal yang tidak sesuai syari’at”. Tambahan itu pada benda sejenis yang diharamkan sedang pada benda yang tidak sejenis apabila dipertukarkan tidak haram atau tidak riba.[1]

B.  Pengertian Secara Ijmal Qs. Al-Baqarah: 275-279.
Dalam ayat-ayat yang lalu dikemukakan masalah sedekah, dan orang yang bersedekah adalah orang memberikan harta benda tampa mengharapkan imbalan, kecuali dari allah swt. Dalam ayat-ayat yang sekarang dibahas, berkisar pada masalah riba, karena orang yang berbuat riba itu mengambil harta tampa adanya imbalan yang memadai.
Riba itu dibagi menjadi dua: Riba Fadhal dan Riba Nasi’ah. Sebelum dikemukakan penafsiran ayat-ayat diatas, terlebih dahulu dijelaskan pengertian riba dalam peristilahan Islam. Dijelaskan pula riba yang dikenal padal waktu Al-Qur’an diturunkan, dan juga bagaimana bentuknya. Sehingga duduk permasahan dapat kita pahami . 
C.  Penafsiran kata-kata sulit pada Qs. Al-Baqarah: 275-279.
a.    Ya’ kuluna: mereka mengambil dan men-tasarruf-kan untuk macam-macam keperluan.
b.    Ar-Riba: secara bahasa Raba ’sy-Syai’(jika sesuatu itu makin bertanbah) juga dari kata Ar-Rabiah (tanah tinggi) karena ketinggin melebihi tanah sekelilingnya.
c.    Al-Khabtu: berjalan dengan setabil. Dikatakan, naqatun khabutun, apabila unta tersebut menginjak manusia dan memukulnya ke tanah. Dilakukan kepada orang melakukan sesuatu tampa petunjuk. Huwa yakhbathu khabta’asywa, ia membabi buta bagai unta yang matanya rabun. 
d.   Al-Massu, gila, dikatakan, Mussa ’r-rajulu fa huwa mamsusun, apabila silelaki itu gila dan otaknya miring.
e.    Al-mau’ishah: nasihat dan larangan
f.     Al-Muhiq: berkurangnya sedikit demi sedikit sampai hilang. Sama halnya dengan tambah dan berkurangnya bulan.
g.    Yurbi, bertambah dan berlipat-lipat.
h.    La Yuhibbu: tidak rela.
i.      Al-Kuffar: orang yang tetap kafir dan tetap dengan kekafiran.
j.      Al-Atsim: tenggelam dalam lumpur dosa.
k.    Ittaqu ’l-lah: peliharalah sekalian dari siksa-Nya.
l.      Dzaru: tinggalkanlah oleh kalian.
m.  Fa’ dzanu: ketahuilah
n.    Bi harbin mina ’l-lah : mendapatkan murka-Nya.
o.    Bi Harbin min rasulih: mendapatkan murka rasul-Nya.
p.    La Tazlimuna: janganlah kalian berbuat zalim orang-orang yang diberi utang dengan memgambil banyak dari yang seharusnya.
q.    La tuzhlamuna: jangan sampai kalian zalim dengan dikurangi modal milikmu.
r.     Al-’Usr: dalam keadaan sulit, lantaran lenyapnya harta atau rusaknya barang dagangan[2]


D.  Tafsir surat Al-baqarah: 275-279 dan Al-Imran: 130
Dalam kajian tema ini ada beberapa ayat al-Qur'an yang cukup signifikan untuk dipahami secara mendalam, yaitu Qs. Al-Baqarah: 275-279 dan Al-Imran: 130
1)      Qs. Al-Baqarah: 275
šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù'tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ Ï%©!$# çmäܬ6ytFtƒ ß`»sÜø¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßg¯Rr'Î/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìøt7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìøt7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§ 4ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y ÿ¼çnãøBr&ur n<Î) «!$# ( ïÆtBur yŠ$tã y7Í´¯»s9'ré'sù Ü=»ysô¹r& Í$¨Z9$# ( öNèd $pkŽÏù šcrà$Î#»yz ÇËÐÎÈ

 Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
Dari ayat 275 Qs. Al­-Baqarah diatas menunjukkan kehalalan segala bentuk jual-beli, kecuali ada dalil berupa sunnah rasulullah atau ijma’ ulama yang mustahil tidak memgetahui maksud Allah SWT, yang mengharamkan bentuk jual-beli. Dalam kasus kami murujuk kepada hadits Nabi SAW, karena hadits merupakan penjelas kandungan firman Allah SWT, baik khusus ataupun yang umum. Kami dapati dalil dari Nabi SAW yang menharamkan dua hal: pertama, melebihkan pembayaran tunai dan kedua, tambahan pembayaran karena penundaan. [3]  
Dari pangkal ayat 275 Qs. Al­-Baqarah yang berbunyi ’’orang –orang yang memakan riba itu tidaklah akan berdiri, melainkan sebagai berdirinya yang diharu-biru syaitan dengan tamparan” kalimat dalam ayat ini makan riba telah menjadi kata umum. Sebab meskipun riba bukan semata-mata buat dimakan, bahkan untuk membangun kekayaan yang lain-lainpun, namun asal usaha pada mulanya”cari makan”. Maka didalam ayat ini diperlihatkan pribadi orang makan dari harta riba telah berjuta-juta. Dia tidak merasakan kenikmatan didalam jiwa karena tempat berdirinya ialah menghisap darah orang lain. Dia diumpamakan dengan yang selalu kacau, resah, gelisah, dan haru biru karena ditampar oleh syetan. [4]
Dan yang dimaksudkan dengan kata الأكل dalam ayat 275 Qs. Al-Baqarah di atas adalah 'segala macam pengambilan dan penggunaan harta. Yakni seseorang yang menggunakan (mentasharrufkan) harta orang lain dengan cara-cara yang tidak benar. Ungkapan إنما البيع مثل الربا merupakan ungkapan 'perumpamaan' yang memiliki perbedaan tipis antara yang 'diperumpamakan' dengan yang 'menjadi perumpamaan'. Perumpamaan seperti ini seringkali disebut dengan istilah التشبيه المقلوب . Ungkapan seperti itu sama dengan ungkapan, semisal, القمر كوجه زيد
2)      Qs. Al-Baqarah: 278
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#râsŒur $tB uÅ+t/ z`ÏB (##qt/Ìh9$# bÎ) OçFZä. tûüÏZÏB÷sB ÇËÐÑÈ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (278 Qs. Al-Baqarah)
Pada keseluruhan ayat 278 Qs. Al-Baqarah menjelaskan orang yang beriman adalah orang diliputi oleh rasa kasih sayang kepada sesama manusia. Yang bermaksud memeras keringat sesama manusia. Menurut riwayat dirawikan oleh Ibnu Jarir dan Ibnul-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim daripada as-Saudi ayat ini diturunkan ialah berkenaan dengan diri paman Nabi s.a.w. sendiri. Beliau mendirikan satu perkongsian dengan seorang dari Bani al-Mughirah, yang mata pencarian mereka ialah menternakan uang(makan Riba).[5]    
Pada bagian akhir ayat 278 Qs. Al-Baqarah, ditegaskan bahwa "… kamu tidak berbuat zalim (aniaya), dan tidak pula menjadi korbannya (dianiaya)". Jika ini dijadikan tolok ukur riba, maka jalan tengah dapat ditemukan. Yaitu, betapapun kecilnya 'tambahan' itu, apabila menimbulkan kesengsaraan (zulm) maka termasuk riba. Hanya saja, karena di masa Rasul riba selalu mengambil bentuk ad'af muda'afah, tidak dalam bentuk lain, maka sifat ini disebutkan secara eksplisit dalam al-Qur'an. Dengan demikian, kata ad'af muda'afah relevan dengan kata 'ketidakadilan'.[6]
Riba dalam hutang piutang dinamakan dengan riba nasi'ah, sedangkan riba dalam jual beli masih terbagi lagi menjadi dua, yakni riba fadl dan riba nasa'. Adapun riba yang dimaksud dalam rangkaian ayat Qs. Al-Baqarah: 275-279 di atas adalah riba nasi'ah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyah.
Penting juga untuk dijadikan pertimbangan dalam memahami makna riba di dalam al-Qur'an, bahwa pada masa Rasul tidak ada inflasi, karena mata uang yang berlaku adalah uang emas dan perak (dinar dan dirham). Karenanya, pengembalian hutang sebesar jumlah pinjaman menggambarkan keadilan. Akan tetapi dalam kurun waktu tertentu di mana inflasi melanda mata uang tertentu, maka pengembalian hutang sebesar jumlah pinjaman tidak menggambarkan keadilan, bahkan sebaliknya, menimbulkan kerugian sepihak. Kalau statemen la tazlimun wa la tuzlamun dalam ayat 278 Qs. Al-Baqarah dijadikan kata kunci dalam memahami riba dalam al-Qur'an, maka pengembalian hutang sebesar pinjaman berikut bunga yang proporsional dengan besarnya inflasi akan menjamin keadilan daripada tanpa tambahan. Kalau demikian, pemahaman lebih adil tentang pokok modal masa sekarang untuk kasus di Indonesia, adalah modal yang dihitung berdasarkan nilai kurs, bukan berdasarkan nilai nominal. Dengan cara ini maka pihak pemberi pinjaman maupun yang meminjam tidak dirugikan.
Rumusan pengertian tentang riba nasiah dalam kajian fiqh, seperti yang disimpulkan oleh Wahbah az-Zuhaili dengan pengertian "mengakhirkan pembayaran hutang dengan tambahan dari jumlah hutang pokok"[7] memang telah dapat menggambarkan secara tepat mengenai bentuk formal praktek riba Jahiliyah. Kerugian sepihak dan kezaliman sebagai 'hakikat' riba pada waktu itu ditimbulkan oleh bentuk formal kegiatan ekonomi yang begitu melekatnya Asosiasi antara "tambahan atas jumlah pinjaman" dengan "penyengsaraan".
3)      Qs. Ali Imran: 130:
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#qè=à2ù's? (##qt/Ìh9$# $Zÿ»yèôÊr& Zpxÿy軟ÒB ( (#qà)¨?$#ur ©!$# öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÌÉÈ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
      Ayat ini adalah Madaniyah yang berisi larangan riba secara tegas.[8] Menurut sebagian besar ulama bahwa riba nasi'ah itu selamanya Haram, walaupun tidak berlipat ganda. Menurut sebagian besar ulama bahwa riba nasi'ah itu selamanya Haram, walaupun tidak berlipat ganda. Riba itu ada dua macam: Nasiah Dan Fadhl. riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya Karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. riba yang dimaksud dalam ayat ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyah.
        Asbabun Nuzul : Firman Allah swt., “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda…” (Surat Ali Imran 130) Diketengahkan oleh Faryabi dari Mujahid, katanya, “Mereka biasa berjual beli hingga waktu tertentu. Jika waktu itu telah sampai, mereka tambah harganya dan perpanjang waktunya, maka turunlah ayat, ‘Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda.’” (Q.S. Ali Imran 130) Diketengahkan pula dari Atha’, katanya, “Suku Tsaqif biasa berutang kepada Bani Nadhir di masa jahiliah, maka jika telah jatuh temponya, mereka katakan, ‘Kami beritahu tambahan asal saja kamu perpanjang waktu pembayarannya.’ Maka turunlah ayat, ‘Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda.’” (Q.S. Ali Imran 130)

a mengharapkan imbalan, kecuali dari allah swt. Dalam ayat-ayat yang sekarang dibahas, berkisar pada masalah riba, karena orang yang berbuat riba itu mengambil harta tampa adanya imbalan yang memadai
Dalam Qs. Al-baqarah: 275-279 yang ditegaskan pada ayat Al-Imran: 130 menerangkan tentang riba yaitu riba Nasi’ah dan riba fadhl. Pada riba ini peminjam diberikan syarat dan membayar lebih dari apa yang dipinjamkan sehingga orang yang meminjam tidak mempu membayarnya.  






:



u hlm., 153