A. Renaissance
Ini istilah bahasa prancis. Dalam bahasa latin, re + nasci berarti lahir kembali. Istilah ini biasanya digunakan sejarahwan untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi eropa, dan lebih khusus lagi di italia, sepanjang abad ke-15 dan ke-16. Istilah ini mula-mula di gunakan oleh sejarahwan terkenal, michelet, dan dikembangkan oleh J. burckhardt untik konsep sejarah yang menunjuk kepada periode yang bersifat yang bersifat individualisme, kebangkitan kebudayaan antik, penemuan dunia dan manusia, sebagai periode yang dilawankan dengan periode abad pertengahan. Karya filsafat pada abad ini sering disebut filsafat renaisance.
Renaisance yang berarti lahir kembali bertujuan merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup kristiani dengan mengaitkan filsafat yunani.dengan ajaran agama kristen. Selain itu, juga dimaksudkan untuk mempersatukan kembali gereja yang terpecah-pecah.
Disamping itu, para humanis meningkatkan suatu perkembangan yang harmonis dari keahlian-keahlian dan sifat-sifat alamiah dengan mengupayakan kepustaan yang baik dan mengikuti kultur klasik.
Renaissance akan banyak memberikan segala aspek realitas. Perhatian yang sungguh-sungguh atas segala yang konkret dalam lingkup alam semesta. Pada masa itu itu pula terdapat upaya manusia memberi tempat kepada akal yag mandiri. Yang yang diberikan kepercayaan yang lebih besar karna adanya sesuatu keyakinan bahwa akal pasti dapat menerangkan segala macam persoalan yang di perlukan juga pemecahannya. Hal ini dapat dibuktikan adanya perang terbuka atas kepercayaan yang dogmatis dan terdapat orang-orang yang menggunakan akalnya.
B. Tahapan-tahapan sejarah filsafat abad modern
Ketika itu di dunia bara telah biasa membagi tahapan-tahapan sejarah pemikiran menjadi tiga periode, yaitu :
Pertama: Ancient atau zaman kuno, menurut mereka zaman ini terdapat kamajuan manusia.
Kedua: Medieval atau pertengahan, yakni zaman di mana alam pikiran dikukung atau di dominasi oleh gereja.selain itu kebebasan pemikiran sangat terbatas, perkembangan sains amat sulit dan perkrmbangan filsafat tersendat- sendat .
Ketiga: zaman modern yakni zaman sesudah abad pertengahan berakhir hingga sekarang.
Namun batas yang jelas tentang tentang kapan abad pertengahan berakhir sulit ditentukan. Zaman modern sangat dinanti–nantikan oleh banyak pemikir manakala mereka mengingat zaman kuno etika peradaban begitu bebas, pemikiran tidak dikekang oleh tekenan-tekanan diluar dirinya. Kondisi semacan ini hendak dihidupkan lagi pada zaman modern.
Ciri–ciri pemikiran filsafat modern antara lain ingin menghidupkan kembali Rasionalisme keilmuan subyektivisme, Humanisme dan lepas dari pengaruh gereja.
C. Aliran-aliran filsafat pada abad modern
Filsafat modern mempunyai tiga pokonya aliran yang akan di uraikan sebagai berikut :
1. Rasionalisme
Descartes di samping sebagai tokoh rasionalisme juga dianggap sebagai bapak filsafat modern, selain itu descartes juga mengemukakan metode baru yaitu metode keragu-raguan. Jika saya meragukan segala sesuatu, tetap
tidak ada sesuatu yang mungkin di ragukan yaitu saya sedang meragukan segala sesuatu. Jadi bahwa saya sedang berfikir. Dan kalau pasti bahwa saya berfikir, maka ada lagi pasti dan tidak dapat di ragukan, yaitu bahwa saya sendiri ada: cogito ergo sum ! saya berfikir, maka aku ada.
Adapum sumber kebenarannya ialah rasio. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Karena saja yang di anggap sebagai sumber kebenaran, maka aliran ini di sebut rasionalisme. Adapun pengetahuan indera sering menyesatkan. Jadi, paham rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal adalah alat terpenting yang memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.
Ciri pertama rasionalisme adalah kepercayaan pada kegiatan akal budi manusia. Segala apa dapat dan harus dimengerrti secara rasional. (b) penolakan terhadap tradisi, dogma dan otoritas mempunyai dampak pada segala bidang pengetahuan, dan kemudian juga pada kehidupan masyarakat. (c) rasionalisme mengembangkan metode baru bagi ilmu pengetahuan yang jelas menunjukkan ciri-kemodernan. (d) unsur terakhir dalam rasionalisme yang mau saya sebutkan sekuralisme. Sekulismu adalah sesutu pandanngan dasar dan sikap hidup yang dengan tajam membedakan antara tuhan dan dunia dan menganggap dunia sebagai duniawi saja.
Rasinonalisme sebagai
pengetahuan deduktif. Secara demikian
akal budi di pahamkan sebagai.(1) sejenis perantara khusus yang dengan perantara tersebut dikenal dengan kebenaran, dan sebagai.(2). Suatu teknik deduksi ini yang memakai teknik tersebut dapat ditemukan kebenaran- kebenaran; artinya, dengan melakukan penalaran.
Pengalaman merupakan pelengkap bagi akal. Seorang penganut rasionalisme tidaklah memandang pengalaman sebagai hal yang tidak mengandung nilai. Bahkan sebaliknya ia mungkin mencari pengalaman- pengalaman selanjutnya sebagai bahan pembantu atau sebagai pendorong dalam penyelidikannya untuk memperoleh penyelidikannya untuk memperoleh kebenaran. Dan mungkin mengadakan perbedaan antara pengetahuan dengan pendapat. Pengetahuan merupakan hasil kegiatan akal yang mengolah hasil tanggapan yang tidak jelas yang timbul dari indra, ingatan atau angan-angan kita.
Penganut aliran rasionalisme yang lain diantaranya yang terutama adalah Blaise Pascal (1623- 1662 M), Nikole Malehrance (1678-1718 M ), spinoza (1632-1677 M), leibniz (1647-1716).
2. Empiris
Emipiris bertentangan dengan rasionalisme yang berpendirian bahwa sumber pengenalan adalah rasio, sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang kabur saja, aliran empirisme berpendapat bahwa pengetahuan bersumber dari pengalaman. Sehingga pengenalan indrawi merupakan pengenalan yang paling jelas dam sempurna.
Pengetahuan diperoleh dengan perantara indera kata seorang penganut empirisme john locke bapak empirisme britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan, akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong, dan di buku catatan itulah dicatat pengalaman- pelangalaman. Inderawi . menurut john locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta membanding- bandingkan ide-ide yang diperoleh dari pengindraan dan refleksi yang pertama-tama dan sederhana tersebut.
Francus bacon ( 1210-1292 M) berpendapat: pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan inderawi dengan dunia fakta. Pengalaman merupakan sunber pengetahuan yang sejati. Penngetahuan haruslah dicapai dengan induksi. kata bacon selanjutnya: kita sudah terlalu lama di pengaruhi oleh pengaruh metode deduktif. dari dogma- dogma di ambil kesimpulan, itu tidak benar.
Thomas hobbes (1588-1292 M) berpendapat pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengenalan. Hanya sesuatu dapat disentuh dengan inderalah yang merupakan kebenaran. Pengetahuan intelektual tidak lain hanyalah merupakan penggabungan data-data inderawi mereka.
Pengikut aliran empirisme yang diantaranya : john locke(1632-1704 M), David hume (1711-1776 M), Gerge berkeley (1665-1753 M).
3. Kritisisme
Pendirian rasionalisme dan empirisme sangat bertolak belakang. Rasionaliosme berpendirian bahwa rasiolah sumber dari pengenalan atau pengetahuan, sedangkan empirisme sebaliknya berpendirian bahwa pengalamanlah yang menjadi sumber tersebut.
aliran kritisisme filsafat modern ini berperan memjembatani antara rasionalisme dengan emperisme, sedangkan validitasnya ialah hukum kausalitas dan urutan peristiwa.
Immanuel kant (1724-1804 M) berusaha mengadakan penyesaikan atas pertokaian itu dengan filsafatnya yang di namakan kritisisme (aliran yang kritis) untuk itulah ia menulis bukunya yang berjudul: kritik der Reynen Vernunft (kritik atas rasio murni), kritik der Urteilskraft (kritik atas daya pertimbangan).
Menurut kant, dalam pengenalan inderawi selalu ada dua bentuk apriori, yaitu ruang dan waktu. Memang ada suatu realitas (das ding an sich = benda dalam dirinya ) tidak pernah dikenalinya. Kita hanya mengenal gejala- gejala yang merupakan sintesa antara hal-hal yang datang dari luar (aposterori ) dengan bentuk ruang dan waktu.
Selainnya tiga aliran pokok yanh telah diuraikan diatas, dalam era modern, yang kemudian dilanjutkan dengan filsafat era ke-20, terdapat berbagai pimikiran lagi, yang akan diuraikan sebagai berikut:
a Idealisme
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata idea yaitu suatu yang hadir dalam jiwa. Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri. Oleh karna itu, tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi tergantung pada spirit tidak disebut idealis karna mereka tidak menggukan argumen epistemologi yang digunakan idelisme.
Setelah kant mengetengahkan tentang kemampuan manusia, maka para murid kant tidak puas, alasannya karna akal murni akan dapat mengenal hal yang berada dalam pengalaman. Untuk itu, dicarinya suatu dasar, yaitu sistem metafika yang ditemukan lewat dasar tindakan.
Pelopor idelisme: J. G. fichte (1762-1814 M ), F.W.J. Scheling (1775-1854 M), G.W.F. Hegel (1770-1814 M), Schopenhauer (1788-1860 M).
Dokrin idealisme memiliki akar yang mendalam dalam sejarah pemikiran manusia, dan bentuknya bermacam-macam. Kata idealisme adalah salah satu kata yang cara penting sepanjang sejarah filsafat. Kata itu mengubah sejumlah paham filsafatyang di dalamnya ia mengkristal, (arti kata Idelisme) menjadi tidak jelas.
Beberapa penulis buku-buku filsafat malah meganggap sebagai sesuatu gambaran setiap filsafat yang bertopang pada skeptisisme, yang mengandung usaha menjauhkan sisi objektif sesuatu dari kerangka pengetahuan manusia, atau mennegaskan adanya metafisis bagi alam. Spiritualisme, argotisisme, empirisisme, rasionalime, kritisisme, fenomenalisme eksisitensial, menurut mereka, adalah filsafat-filsafat idealistik, Oleh karena itu, agar peranan idealisme dalam teori pengetahuan itu menjadi jelas, kami akan membahas beberapa tendensi penting dalam idealisme modern, yaitu tendensi filosofis, tendensi fisikal, dan tendensi fisiologik, yang akan di uraikan sebagai berikut:
§ Idealisme Filosofis
Pendiri Idelisme filosofis adalah George Berkeley dianggap sebagai Bapak Idealisme Modern. Filsafatnya di anggap sebagai titik tolak bagi idealistik atau tendensi konseptual pada abad-abad terakhir filsafat. Inti Idealisme adalah dokkrin brekeley dapat di padatkan dalam ucapannya yang sangat terkenal: “ Esse Est Percipi “ artinya untuk ada, berarti mengatahui atau diketahui. Dengan kata lain, suatu yang mungkin dinyatakan ada selama sesuatu itu tidak mengetahui atau tidak diketahui.
Konsep idealisme brekeley mengandung kekaburan yang memungkinkan diberi penafsiran, yang berbeda-beda dalam tingkat idealismenya dan kedalaman konseptualnya. Kita mengambil arti yang paling idealitik, yaitu arti yang benar-benar idealitik yang tidak mengakui apapun selain eksitensi jiwa. Arti idealisme murni inilah yang terkenal sekali dalam pertanyaan filosofisnya dan juga sesuai dengan dalil-dalil itu ia berusaha menegaskan konsep idealismenya. Dalil-dalil atas konsep ini dapat di rangkum sebagai berikut: Dalil yang pertama, bahwa semua pengetahuan manusia berasal dan berdasarkan pada manusia. Dalil kedua adalah mempercayai adanya sesuatu diluar jiwa dan konsepsi kita bertumpu kepada fakta bahwa kita melihat dan merabanya yaini kita adnya sesuatu itu karena ia memberikan kepada kita persepsi inderawi tertentu.
§ Idelisme fisis
Sebelum abad terakhir, fisika menafsirkan alam secara Realistik dan Materialistik sebagai dikuasai oleh hukum Mekanik Umum.
§ Idelisme fisiologis
Ini adalah jenis lain dari Idelisme sementara ahli Fisiologi. Ia berdasarkan, menurut klaim-klaim mereka atas realitas-realitas dari sesuatu titik tolak yang di perdebatkan. Yaitu bahwa kepastian itu bentuk subjektif persepsi inderawi manusia itu tergantung pada susunan indera kita dan sistem organik secara umum.
Tendensi Idealisme Fisiologis adalah termasuk komplikasi tan terhindarkan dari konsep materialisme tentang pengetahuan yang kita tolak mentah-mentah.
b Positivisme
Positivisme lahir pada abad ke-19. Titik tolak pemikirannya, apa yang diketahui adalah apa yang faktual dan yang positif, sehingga metafisika ditolaknya. Maksud positif adalah segala gejala dan segala yang tampak seperti apa adanya sebatas pengalaman-pengalaman objektif. Jadi, setelah fakta diperolehnya, fakta-fakta tersebut kita atur dapat memberikan semacam asumsi kemasa depan.
Beberapa tokohnaya adanya August Conte(1798-1857 M), John S. Mill (1806-1973 M), Herbert Spencer (1820-1903 M)
c Evolusionisme
Aliran ini dipolopori oleh seorang Zoologi yang pengaruh saat ini yaitu, Charles Robert Darwin. Ia mendominasi pemikiran filsafat abad ke-19. Pada tahun 1838 membaca bukunya Malthus An Essay on the Principle of Popullation. Buku tersebut memberiksn inspirasi kepada darwin untuk membentuk kerangka berpikir dari teorinya. Dalam pemikirannya, ia mengajukan konsepnya tentang perkembangan segala sesuatu termasuk manusia yang diatur oleh hukum mekanik, yaitu Survival of The Fittest dan Struggle For Life.
Pada hakikatnya antara binatang dan manusia dan benda apa pun tidak ada bedanya. Dimungkinkan terdapat perkembangan manusia pada masa yang akan sempurna lebih sempurna. Dalam pemikiranya, darwin tidak melahirkan sistem filsafat, tetapi pada ahli fikir berikutnya Herbert Spencer berfilsafat berdasarkan pada Evolusionisme.
d Materialisme
Seorang tokoh Julien De Lamettrie mengemukakan pemikirannya bahwa binatang dan manusia tidak ada bedanya, karena semuanya dianggap sebagai mesin. Buktinya, bahan tampa jiwa hidup, sedangkan jiwa tampa bahan tidak mungkin ada.
Seorang tokoh lagi adalah Ludwig feueurbach sebagai pengikut Hegel, mengemukakan pendapatnya, bahwa baik pengetahuan maupun tindakan berlaku adagium, artinya terimalah dunia yang ada, bila menolak agama/metafisika.
e Neo-Kantianisme
Setelah Materialisme merajarela, para murid kant mengadakan gerakan lagi. Banyak filosof Jerman yang tidak puas terhadap Materialisme, positivisme, idealisme. Mereka ingin kembali ke filsafat kritis yang bebas spekulasi idealisme dan bebas dari dogmatis positivisme dan materialisme. Gerakan ini disebut Neo-Kantianisme. Tokohnya Wilhelm Windelband (1848-1915 M), Herman Cohen(1842-1918 M), Paul Natrop (1854-1924 M), Heinrickh Reickhart (1863-1939 M ).
f Pragmatisme
Pramatisme berasal dari kata pragma yang artinnya guna. Pragma dari kata yunani. Kata pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan akibat-akibat yang bermanfaat secara pragtis.
Tokohnya William James (1842-1910 M) lahir di New York, ia ahli dalam bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi, dan filsafat.
g Fenomenologi
Fenomenologi berasal dari kata fenomen yang artinya gejala, yaitu suatu hal yang tidak nyata dan semua. Tokohnya Edmund Husserl (1839-1939 M), dan pengikutnya Max Scheler (1874-1928 M).
h Eksistensisme
Kata Eksistenisme berasal dari kata Eks artinya keluar, dan Sistensi atau Sisto yang artinya berdiri, menempatkan. Pelopornya adalah Soren Kierkegaard (1813-1855 M), Martin Headegger, J.P Sartre, Karl Jaspers, Gabriel Marcel.
Aliran ini merupakan aliran filsafat yang memandang berbagai gejala dengan berdasar eksistensinya. Artinya, bagaikan
manusia berada bereksistensi dalam dunia.
i Anti Theisme atau Atheisme
Anti theisme atau atheisme aliran filsafat yang ingin mewujudkan sejarah manusia tampa tuhan. Tokoh filsafat ini adalah Friedrich Nietzche (1844-1890 M), tuhan dan agama menurutnya dipandang sebagai formula jahat yang diterapkan dalam setiap fitnah melawan manusia di dunia.
Pokok-pokok filsafatnya diantara mengenai kehendak manusia, manusia sempurna, dan kritikan terhadap agama (kristen).
Di negara indonesia, istilah atheisme di kenal dengan istilah neo Komunisme/marxisme-leninisme, tindakan keji mereka dan kejam masih melekat dalam benak benak bangsa indonesia. Baik penghianatannya dalam mediun affair tahun 1948 maupun tragedi berdarah oleh Gerakan 30 Sebtember tanggal 1 Oktober 1965. Kedua peristiwa itu telah menelan korban dari kalangan pejabat pemerintah, para jenderal bersenjata, tokoh-tokoh masyarakat maupun pemuka agama. Dan PKI itu dibubarkan dan dilarangnya faham komunisme/marxisme-leninisme melalui ketetapan MPRS No. XXV/1966.
Kesadaran manusia secara umum sebenarnya luar biasa konservatif, dan selalu tertinggal dari perkembangan masyarakat, teknologi dan kekuatan produktif.
Itu mereka Di biarkan tak di beri ruang gerak untuk bergerak dan di karenakan orang kumunis sangat kejam.
D. Tokoh-Tokoh Filsafat pada Abad Modern
dalam era filsafat modern terdapat berbagai tokoh pimikiran, yang akan diuraikan sebagai berikut:
1. Rene Descartes
Rene Descartes dilahirkan pada tanggal 31 Maret 1596 disebuah kota kecil la Haye, sekitar tiga puluh mil dari Tours. Tempat ini berganti nama menjadi Descartes, dan hingga saat ini rumah yang menjadi tempat kelahirannya masih bisa disaksikan, begitu dengan gereja yang menjadi Descartes dibabtis, yakni gereja St. Georges yang di bangun pada abad kedua belas.
Descartes adalah nama tenar dalam sejarah filsafat. Ketenarannya juga menyebabkan pula menyebabnya pertanyaannya: Cogito Ergo Sum bergema luas.” Aku berfikir, jadi aku ada” merupakan pembuktian eksistensi manusia sebagai kesadaran. Ini tentu penting bagi mereka yang memerlukan pembuktian.
Seandainya pembuktian ini tidak dianggap penting, tetap saja kehadiran descartes mengejutkan, karena dianggap membunyikan lonceng awalnya filsafat modern. Modern berarti baru, meninggalkan yang lama. Dan descartes menghapus gagasan-gagasan yang dianggap tidak meyakinkan.
Meyakinkan orang dapat dilakukan dengan berbagai cara: menteror atau menyuap, tetapi pencerahan di eropa meyakinkan langsung langsung dilakukan dengan nalar, yaitu lewat penaran yang jelas dan cermat. Sementara itu, penalaran yang cermat dapat diikuti melalui pembuktian matematika. Ternyata penalaran itu tidak hanya di terapkan pada filsafat, tetapi juga pada ilmu-ilmu yang lainya ditulis olehnya karya berjudul makalah tentag dunia (Traite Du Monde).
Empat tahun kemudian ia menerbitkan risalah tentang metode yang dianngap aman sebagai pengantar untuk ketiga eseinya dioptrioque, meteores, dan geometri (bagian dari Traite Du Monde). Mengkaji dan menjabarkan metode lebih aman karna lebih abtrak, sedangkan contohnya yang dipakai olehnya tetap menyerempet bahaya. Memang pokok bahasanya tetap dunia, tuhan dan jiwa, tetapi dengan menyangsikan pengetahuan terdahulu, jadi, tentu harus dituliskan dengan rendah hati. Demikian Risalah tentang Metode. Buku terdiri dari enam bagian, bagian pertama dapat ditemukan berbagai pembahasaan tentang ilmu-ilmu pengetahuan, bagian kedua, kaidah-kaidah pokok tentang metode yang sedang diteliti pengarang, bagian ketiga, beberapa kaidah moral yang didasarkan pada metode tersebut, bagian keempat, penalaran- penalaran yang membuktikan keberadanan tuhan dan jiwa munusia yang merupakan dasar metafisikanya, bagian kelima, urutan masalah-masalah fisika yang telah ditelitinya, terutama dalam pergeraka jantung dan masalah yang lain dalam ilmu kedokteran dan bgian terakhir, hal-hal yang menurut pendapatnya prasarat untuk maju untuk maju lebih maju dalam penelitian alam , dan alasan-alasan yang mendorong dan menulisnya.
Descartes menemukan dalam ilmu pasti ialah sistem koordinat yang terdari dua garis lurus x dan y. dalam bidang datar garis x letaknya horizontal dan Axis atau sumbu x sedangkan letaknya tegas x lurus pada sumbu x. karena dua garis yang berpotongan tegak lurus maka sistem koordinat itu dinamakan orthogtonal, coordinate sistem. Kedudukan titik dalam bidanh tersebut di proyeksikan dengan garis lurus pada sumbu x dan
y. Dengan demikian, kedudukan tiap titik potong kedua sumbu-sumbu tadi. Pentingnya sistem yang ditemukan descartes in terletak pada hubungan yang diciptakan antara ilmu ukur bidang datar dalam al-jabar tiap titik dapat dinyatakan dengan koordinat x: dan y: panjang garis dapat dinyatakan serupa dengan hukum pythagoras mengenai hypothenusa. Penemuan Descartes ini dinamakan Analytik.
2. Immanuel Kant
Immanuel kant lahir pada tahun 22 April 1724 di Konigsberg, Prussia Timur. Kelurganga termasuk kaun Pities, sebuah sekte protestan seperti sekte Quarter dan Metodis awal. Orientasi etis pietisme yang sangat kental dan tiadanya pengenalan pada dogma teologis menjadi sebuah ciri khas kant dan faktor determinan dalam filsafatnya. Setelah menyesaikan kuliah di Universitas Konigsberg dan menjadi tutor di beberapa keluarga keluarga aristrokat, kant menyesaikan almamaternya itu. Dia menjadi selama lima belas tahun, mengajar dan menulis tentang metafisika, logika, etika, dan sains-sains alam.dalam sains, dia memberikan kontribusi yang signifikan tetapi pada masa itu tidak banyak diketahui, khususnya dalam fisika, astronomi, geologi, dan mateorologi. Pada tahun 1770, dia diangkat sebagai guru besar logika dan metafisika di konigsberg, dan pada tahun 1781dia menerbitkan karya terpentinya, Cristiqua of Pure Reason. Karya ini membuka studi dan masalah-masalah baru pada zaman ketika kebanyakan orang bersiap-siap untuk pensiun. Namun, bagi kant masa dua puluh tahun itu merupakan masa kerja keras tak kenal lelah beserta prestasi tak tertandingi.
Prestasinya yang lain dicatat adalah karya-karya terpentinnya diantaranaya: Idea for Universal History (1784), Mataphysics of Ethics (1797) Cristiqua of Judgment (1790) Edsi Kedua Cristiqua of Pure Reason (1787).
Kepribadian Kant, atau setidaknya karikatur tentangnya cukup terkenal. Kebanyakan orang yang tidak mengenal Kant tahu bahwa orang-orang di konigsberg melihatnya berjalan-jalan setaiap sore pada jam sama. Konon kehidupankan kant sangat teratur seoerti terturnya kata kerja beraturan. Namun seorang penulis jerman, johan gottfried herder. Memberikan gambaran kepribadian kant yang lebih mendekati kebenaran, tidak suka menonjolkan keilmuan
.
3. Friedrich Nietzsche
Bersama Nietzsche, filsafat kembali sangat berbahaya, kali ini dengan sesuatu yang berbeda. Dalam abad-abad sebelumnya, filsafat hanya berbahaya bagi para filosuf. Di tangan Nietzsche, filsafat berbaya bagi semua orang. Pada akhirnya, Nietzsche sendiri menjadi gila. Kegilaan begitu jelas terlihat dalam tulisan-tulisannya terakhir. Namun gagasannya yang berbahaya telah mulai jauh sebelum ia menjadi gila. Dan hal ini ada hubungan dengan kegilaan klinis yang di laminya. Tulisan-tulisan memberikan bertanda adanya kegilaan kolektif yang meluas dan mengerikan di Eropa pada paruh pertama abad kedua puluh. Kegialaan tampaknya bangkit kembali saat ini disana.
Sulit sekali memberi label lagi gagasan-gagasan filosofis Nietzsche yang begitu luas ini. Entah ketika berbicara tentang manusia super/superman, kehidupan abadi, tentang satu-satunya tujuan peradapan yakni untuk menghasilkan manusia-manusia hebat seperti Goethe, napoleon, dan dirinya sendiri. Digunakannya Will To Power kehendak untuk berkuasa oleh Nietzsche oleh penjelasan universal adalah sebuah penyerhanaan, kalau bukannya tak bermakna sama sekali bahkan Monisme Freud pun terasa lebih menggigit, dan konsep schopenhauer yang kurang spesifik pun lebih meyakinkan.
Oleh: Mohammad Zamroni